Selasa, 11 Januari 2011

tugas t.industri

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) GANJIL TH 2010/2011
MATA UJIAN : KEWIRAUSAHAAN
SEMESTER : V (LIMA)
PRODI : TEKNIK INDUSTRI,MESIN DAN ELEKTRO
HARI DAN TANGGAL ; SELASA DAN RABU,TGL 25 DAN 26 JANUARI 2011
WAKTU : 60 MENIT
DOSEN : Ir.WIWIK SUMARMI ,MT
======================================================================
1.Sifat-sifat apakah yg. harus dimiliki seseorang untuk dapat menjadi Wira Usaha yang
baik ?.

2.Mengapa inovasi begitu penting pada kewirausahaan yg dapat merupakan syarat bagi sese
orang yg ingin berhasil dlam wira usaha ?

3.Kemampuan-kemampuan dasar apa saja yg harus dimiliki oleh seseorang yg ingin berha
sil dalam kewira usahaan , jelaskan ,minimal 4 dasar kemampuan yg saudara ketahui

4.Apa saja yg merupakan pandangan-pandangan yg keliru terhadap kewirausahaaan dan
atau penyebab utamanya.

5.Saudara telah memulai berwira usaha , buatlah permohonan legalitas menurut usaha
masing-masing, antara lain ;SIUP, TDP, DAN Sutar Ijin Usaha Industri

Soal UAS MSDM smt 7

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) GANJIL TH 2010/2011
MATA UJIAN : MSDM
SEMESTER : VII (TUJUH)
JURUSAN : TEKNIK. INDUSTRI
HARI DAN TANGGAL : KAMIS, 27 JANUARI 2011
WAKTU : 75 MENIT
DOSEN : Ir.WIWIK SUMARMI, MT
SOAL :


Soal 1 (60%)

Downloadlah jurnal atau artikel yang membahas mengenai permasalahan MSDM (jurnal harus dilampirkan) dimana dalam pembahasannya harus melibatkan minmal 3 (tiga) topic pembahasan MSDM (contoh: recruitment, seleksi dan training). Kemudian lakukanlah hal-hal sebagai berikut:
a. sebutkan topik dan teori apa saja yang digunakan
b. bagaimana penjelasan atau uraian teori yang digunakan tersebut
c. berilah komentar/tanggapan/analisa terhadap jurnal tersebut.

Soal 2 (40%)

Saudara diminta untuk memberikan komentar terhadap kedua artikel dibawah ini (sifatnya tanggapan, bukan menyalin ulang).

Artikel 1
Mengukur Efektivitas Training & Development
Di sebuah arena diskusi internal sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia, J Siregar (49) hanya bisa termangu kehilangan kata-kata ketika ia diberondong pertanyaan peserta kelasnya. Pria yang yang kerap tampil sebagai pemberi materi dalam kelompok diskusi terbatas soal SDM itu gelagapan ketika digugat tentang efektivitas sebuah pelatihan, pengembangan atau training.

Sebagaian peserta diskusi menganggap aktivitas bahkan keberadaan sebuah institusi pelatihan di sebuah perusahaan dianggap tidak efektif. Mahalnya biaya training dianggap tidak sebading dengan hasil yang diperoleh. Waktu yang dikeluarkan tidak sepadan dengan apa yang diberikan. Sehingga hujatan itu bermuara pada kalimat training tidak ada gunanya? Kalau training tidak ada gunanya, buat apa ada divisi training?

Namun bagi sebagian peserta lainnya pendapat itu sangat tidak berdasar. Mereka menganggap, training masih sangat berguna untuk kemajuan perusahaan. Mereka menyebut Acer terus meningkat bisnisnya sebesar 40% karena pengembangan kompetensi dari timnya. ICON+ maju pesat sejak fokus pada pelatihan dan human capital stategies. Citibank makin sukses dan tidak pernah diam seminggupun tanpa training.

Bank Niaga apalagi, training center di gunung geulis penuh sepanjang tahun, maka tidak heran terpilih sebagai Employer of Choice. Unilever juga sangat mementingkan training untuk seluruh jajarannya. LippoBank dengan LB Academy nya sukses sekali dan mendapat sambutan yang sangat positif dari seluruh karyawan di Indonesia, manajemen sangat dihargai karena sangat memperhatikan pengembangan karyawan dari segi softskills maupun hardskills.

Tengok HSBC, salah satu perintis industri keuangan modern di banyak negara di Asia itu memanjakan aktivitas itu untuk terus mengembangkan sayapnya. Astra juga dikenal menjadi raksasa di Indonesia karena banyak sekali menyiapkan program-program pembelajaran untuk para karyawannya.

Lalu, apa rahasia sukses dari perusahaan-perusahaan yang sangat mendukung strategi training dan development? Apakah biaya training itu racun, obat atau vitamin? Bagaimana menilai bahwa biaya itu efektif, tidak buang-buang investasi dan bisa menghasilkan untuk perusahaan? Yang terpenting apakah pola pola seperti ini masih efektif untuk tetap dilakukan oleh perusahaan yang ingin berkembang tanpa harus jor-joran menyisihkan bujet perusahaan?
Mengenai soal kebutuhan, kebanyakan pengamat menganggap masih diperlukan keberadaan divisi training & development di sebuah perusahaan. Managing Director PT Multi Talent Indonesia Irwan Rei termasuk yang menyatakan hal itu. ”Jelas masih perlu. Selama perusahaan masih memiliki visi, misi dan tujuan yang ingin
dicapai dan ada kapabilitas organisasi yang ingin dibangun maka pelatihan maupun divisi training akan diperlukan oleh perusahaan,” ujar Irwan.

Hanya saja bagi Irwan, pengelolaan training bisa saja diserahkan ke pihak di luar perusahaan (outsourcing) selama ini dapat memberikanbnilai tambah bagi perusahaan. ”Yang penting pengelola training dapat membangun program yang efektif atau sesuai dengan kompetensi maupun kapabilitas organisasi yang ingin dibangun,” terangnya.
Dalam kenyataannya, banyak organisasi yang menyerahkan program pelatihannya ke pihak eksternal, terutama untuk kompetensi kompetensi yang sifatnya umum, seperti kompetensi Kerja-sama Tim, Kepemimpinan dll. Namun untuk kompetensi-kompetensi yang sifatnya khusus dan menjadi ”kekuatan” perusahaan, maka program pelatihan umumnya dijalankan di dalam dan oleh perusahaan itu sendiri.

Efektivitas training

Untuk soal yang satu ini, soal efektifitas dan bagaimana mengukurnya, pendapat yang muncul cukup beragam.
Direktur SDM PT Aneka Tambang, Syahrir Ika melihat ada beragam ukuran untuk mengukur efektivitas dari sebuah training. “Efektifits training itu kan memang ada ukurannya macam-macam,” terang Syahrir ketika ditemui di Jakarta pertengahan bulan lalu. Menurut pria yang juga Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Sumberdaya Manusia (PMSM) itu, untuk mengukur efektivitas itu ada yang menggunakan ukuran cost terhadap revenue. “Ada yang
5% dari revenue dipakai untuk learning,” ucapnya. Ukuran lainnya adalah peningkatan kompetensi daripada orang-orang itu. “Jadi training yang bagus itu bisa dibikin lebih efisien, tapi menghasilkan.

Syaratnya perusahaan itu harus punya standar kompetensi,” tambahnya. Heru Wiryanto, salah satu pakar dan praktisi SDM itu memiliki pendapat lain. “Kalau melihat training sebagai panacea dan satu satunya obat untuk pengembangan ya salah,” ujarnya kepada HC.

Kenapa salah, karena menurut pengajar di beberapa perguruan tinggi terkemuka itu, dari beberapa riset justru 60% ditentukan job assignment, 30% coaching counseling and feed back dan 10% only from training. “ Nah kalau merujuk hasil hal tersebut kan efektifitasnya hanya 10%,” tambah Heru.

Selain itu, sumber kesalahan kedua adalah pada level analisa kebutuhan training. Selama ini menurut kacamata Heru, kebanyakan praktisi SDM melakukan analisa berdasarkan weakness bukan berdasar kekuatannya. “Bagaimanapun kita tidak akan bisa melatih anjing agar bisa meski trainingnya 25 tahun. Karena weakness
anjing adalah memang tidak bisa nyanyi,” jelasnya panjang lebar.

Dari situ bagi Heru terlihat, dimana letak kesalahannya. “Untuk development, 80% strength, 15% trainable potential, dan hanya 5% weakness. Nah kalau konsentrasinya di 15% +5% terus impact-nya hanya 10% kan bisa dihitung secara matematis +/- 20% X 10%= impact training hanya 2% saja Wow....amazing kan,” ungkapnya antusias.
Sehingga agar agar training bisa berjalan efektif sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, Heru menyarankan agar pelatihan itu berbasis strength based bukan weakness based. Kemudian harus dilink antara business startegi dengan kegiatan training, jika menggunakan causal chain analysis justru mulai dari business
goal menuju training, jangan dibalik.

Soal kemungkinan melesetnya efektivitas training dari yang diharapkan juga diakui oleh Irwan Rei. ”Hal ini dapat saja terjadi karena pengadaan training tidak disesuaikan dengan apa yang memang dibutuhkan oleh perusahaan dan atau pelaksanaan trainingnya itu sendiri yang kurang pas,” ungkap Irwan yang juga berkacamata.

Menurut pandangannya, program training selayaknya dibangun berdasarkan kompetensi yang diperlukan di dalam suatu jabatan. ”Ujung-ujungnya tujuan training adalah untuk membangun kapabilitas organisasi di dalam mencapai visi dan misinya,” ujarnya. Dan tanpa ada dasar yang jelas mengenai kapabilitas dan kompetensi yang ingin dibangun oleh organisasi maka training bisa menjadi tidak efektif hasilnya dan menjadi pemborosan bagi perusahaan.

Hal lain yang juga menurut Irwan Rei penting, soal pelaksanaan training nya itu sendiri yang perlu disesuaikan dengan jenis kompetensi yang ingin dibangun. Ada jenis kompetensi yang memerlukan pelatihan yang umumnya perlu dilakukan dalam jangka panjang, seperti Kepemimpinan dan Kemampuan berkomunikasi.
Sumber: http://www.portalhr.com/majalah/edisiterbaru/fokus/1id655.html
Artikel 2
Satu dari 5 Karyawan Keluar setelah Dua Tahun Bekerja

Fenomena “job shock” yang umum dialami para tenaga profesional yang baru pertama kali menginjakkan kaki di dunia kerja perlu dicermati oleh pengusaha. Sebuah survei tentang tingkat “erosi” pekerja menyatakan, satu dari lima karyawan meninggalkan pekerjaannya dalam dua tahun pertama bekerja.

Survei dilakukan oleh lembaga riset Sirota Survey Intelligence (SSI) di Inggris terhadap 47 ribu karyawan. “Banyak pemimpin perusahaan yang luput menyadari bahwa karyawan baru adalah orang-orang yang memiliki antusias tinggi untuk memulai karir, dan perilaku manajemen telah merusak antusiasme itu,” ujar Presiden SSI Douglas Klein.

“Penelitian kami memperlihatkan angka penurunan pada moral karyawan setelah mereka bekerja di sebuah organisasi selama enam bulan, dan penurunan ini menjadi lebih buruk ketika mereka mengevaluasi antara apa yang mereka harapkan dan apa yang mereka dapat. Perusahaan yang baik tidak menciptakan situasi yang bisa mengakibatkan penurunan moral ini,” tambah dia.

Tidak Sesuai

Menurut chairman emeritus SSI David Sirota, masa “bulan madu” antara karyawan baru dengan perusahaan tempat mereka pertama kali bekerja tidak menemukan kesesuaian dengan harapan. “Dua tahun pertama bekerja adalah masa ketika karyawan merasa bahwa pekerjaan mereka sesuai dengan harapan, di samping bahwa pengusaha telah membuat mereka percaya selama proses rekrutmen,” kata Sirota.

Namun, sambung dia, sikap dan perilaku manajemen dalam usaha meretensi karyawan, membuat perasaan dan percaya diri karyawan baru berantakan. "Perusahaan sebaiknya invest dalam meningkatkan keterampilan memimpin para menajernya dan menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa dihargai oleh atasan mereka,” saran Sirota.

Lebih jauh, menurut analisis yang dilakukan berdasarkan hasil penelitian tersebut, perusahaan-perusahaan dapat meningkatkan retensi karyawan baru dari 10% menjadi 13% dengan menerapkan kebijakan dan praktik manajemen yang lebih efektif. Termasuk, menyediakan pekerjaan yang lebih menantang, jalur karir yang jelas dan kesempatan yang lebih besar untuk berkembang.

Tak kalah penting, pengusaha perlu menciptakan atmosfir di mana staf merasa dihargai dan terjamin –melibatkan mereka dalam usaha-usaha menuju kinerja yang baik, mendengar ide-ide mereka dan menjalankannya. Para manajer juga harus mengubah perilaku mereka dan lebih konsisten dengan ucapan dan perilaku mereka.

Soal dan Jawaban Tugas MSDM SMT 7

Soal dan Jawaban Tugas MSDM untuk Semester 7 download di link di bawah ini :

http://www.4shared.com/file/eNyzvmF-/Soal_dan_Jawaban_MSDM_SMT7.html

Senin, 10 Januari 2011

Soal UAS Teknik Industri Smt 3

UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) GANJIL TH 2010/2011
MATA UJIAN : PROSES PRODUKSI II
SEMESTER : III (TIGA)
JURUSAN : TEKNIK. INDUSTRI
HARI DAN TANGGAL : SELASA DAN RABU/25 DAN 26 JANUARI-2011
WAKTU : 75 MENIT
DOSEN : Ir.WIWIK SUMARMI, MT
SOAL :

Rekomendasi penggunaan clamp. sebagai berikut :
a. Bendakerja yang tipis harus diletakan pada tempat yang datar
b. Ujung akhir bendakerja yang di clamp harus terpotong dengan susunan yang sama rata
c. Benda kerja dengan penampang heksagonal harus diletakan pada permukaan bor dengan susunan yang sesuai.
d. benda kerja bentuk penampang lingkaran harus didata dengan susunan peregi.


1. Pilih salah satu jenis bendakerja/produk/komponen yang diproses dengan mesin gergaji.
a. Tunjukan dengan disertai gambar bendakerja tersebut ?
b. Apa jenis mesin gergaji yang digunakan ?
c. Cantumkan data2 tentang mesin gergaji yang meliputi jenis mesin,pisau gergaji dan spesifikasi mesin.
d. Berikan Alasan yang menjelaskan segi keuntungan.
e. Cara mesin gergaji.

2. Apa yang anda ketahui tentang proses design,proses manufaktur dan proses produksi ?
a. Jelaskan bagian bagian utama mesin bubut dan bagaimana cara menentukan spesifikasinya,disertai diagram Spesifikasi kontruksinya?
b. Jelaskan bagian bagian utama mesin drilling dan tentukan spesifikasinya?

3. Jelaskan Proses pengerjaan apa saja yang dapat dilakukan oleh mesin bubut.

4. Perhatikan gambar benda kerja dibawah ini :


Bendakerja diatas pertama tama dibuat 5 lubang dengan mesin drilli dengan setting kecepatan spindel 200 rpm, kemudian digerinda jenis spindle vertikal dg kecepatan Spindle 150 rpm Feed : 2 mm/put,diameter piringan abrasive jenis lurus : 80 mm.
Hitung waktu pemesinan total dari proses pengerjaan tersebut, jika terdapat pesanan 5 benda kerja berapa waktu yang dibutuhkan ?

Selasa, 04 Januari 2011

Tugas untuk T.Industri,TMesin,T Elektro

persyaratan permohonan industri
Download di sini



permohonan iui
Download di sini


isilah format diatas sesuai ide usaha masing2 yg sd dibuat

(dikumpulkan pertemuan minggu depan)

Selasa, 21 Desember 2010

tugas teknik industri

Pengumuman untuk pertenuan minggu depan tugas harap dikumpulkan.terima kasihWass Wr Wb.(ibu wiwik)
- bagi semsester 5 dimohon untuk mendaftar KKNT bagi yang minat hub, LPPM.

Senin, 20 Desember 2010

Tugas Kewirausahaan Semester 5

Tugas Kewirausahaan Semester 5
  • Teknik Industri
  • Teknik Elektro
  • Teknik Mesin
Buatlah Proposal Ide usaha seperti contoh di bawah ini
dikumpulkan waktu pertemuan

“Inovasi dan Ide Kreatif dalam Bisnis Wirausaha Tela-Tela”

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Mendapatkan pekerjaan tentu menjadi harapan bagi setiap orang untuk mencari penghasilan. Akan tetapi saat ini mendapatkan pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Banyak hal mulai dari persaingan yang ketat dan juga tingkat pendidikan yang variatif membuat seseorang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan
Lapangan pekerjaan yang ada saat ini dinilai tidak mampu untuk menyerap tenaga kerja yang tersedia. Perekonomian negara yang belum stabil juga membuat banyak perusahaan yang bangkrut sehingga tidak bisa memperkerjakan pegawainya. Dibutuhkan sesuatu yang lebih dari masyarakat untuk mampu menghadapi kenyataan yang ada.
Solusi yang ditawarkan adalah wirausaha. Dalam berwirausaha seseorang melakukan secara mandiri kegiatan untuk mendapatkan penghasilan. Kegiatan berwirausaha antara lain membuat produk, menjual produk dan menyediakan jasa. Wirausaha merupakan solusi tepat untuk mencari penghaslian mengingat sangat sulitnya untuk mendapatkan pekerjaan saat ini.
Seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih dalam melakukan wirausaha. Dibutuhkan kemampuan untuk mengatur permodalan serta usahanya dan pengetahuan yang cukup mengenai usaha yang ditekuninya. Seorang wirausaha juga harus memiliki kreasi dan inovasi yang baik agar usahanya dapat diterima oleh masyarakat
Kreasi dan inovasi inilah yang membedakan antara wirausaha dengan pekerjaan lainnya. Dengan berwirausaha kita bisa menuangkan ide-ide kreatif kita sebebas mungkin sehingga memberikan rasa kepuasan tersendiri. Kreasi kita dalam berwirausaha akan menentukan keberhasilan kita dalam menjalankan pekerjaan ini.
Dengan memiliki kreasi dan inovasi yang cemerlang akan terlahir sebuah usaha baru yang sebelumnya tidak ada di pasaran. Tentu saja hal ini akan menguntungkan kita karena berarti kita tidak memiliki pesaing dalam menjalankan suatu usaha. Kecerdasan dalam melihat peluang yang ada tentu saja harus dimiliki oleh setiap wirusahawan.
Pada makalah kali ini akan dibahas sebuah contoh wirausaha yang memiliki ide kreasi dan inovasi yang cukup unik, yaitu bisnis waralaba Tela-Tela. Bisnis ini layak untuk diapresiasi karena memiliki ide original yang sebelumnya tidak pernah ada. Belajar dari bisnis ini semoga dapat menginspirasi kita untuk mulai berwirausaha.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Bagaimana awal bisnis Tela-Tela?
2. Apa saja permasalahan yang dihadapi serta usaha yang dilakukan?
3. Apa upaya kreasi dan inovasi yang dilakukan dalam pengembangan usaha?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Mengetahui salah satu contoh kewirausahaan
2. Mengetahui bagaimana solusi dalam menghadapi permasalahan yang ada
3. Mengetahui kreasi dan inovasi yang dilakukan dalam mengembangkan wirausaha

2. Kajian Kasus
2.1. Awal Bisnis Tela-Tela
Adalah 4 sekawan Febri Triyanto (27), Fat Aulia Muhammad (31), Ashary Tamimi (31), dan Eko Yulianto (32) pendiri dan pencetus waralaba “Tela-Tela”. Mereka adalah empat orang pemuda asal Yogya yang memiliki minat yang sama terhadap bisnis dan sudah lama saling mengenal sejak mereka masih sama-sama kuliah.
Sebelum serius mengembangkan usaha “Tela-Tela”, mereka juga pernah mencoba belajar beberapa bisnis, hanya saja faktor keberuntungan mungkin belum berpihak kepada mereka. Berkali-kali usaha yang mereka jalankan berakhir dengan kegagalan. Hebatnya mereka tidak pernah menyerah, dengan modal spirit bisnis yang memang sudah kuat, mereka terus bereksperimen dan berkarya, “Tela-Tela” adalah buah sukses perjuangan mereka.
Pada tahap awal mereka membuat singkong goreng dengan empat macam bumbu. Mereka juga menyeleksi jenis singkong yang cocok. Lalu ditawarkan ke sejumlah rekannya di kampus untuk mencicipi. Setelah ketemu rasa yang kira-kira menjual, mulailah berjualan pada pertengahan 2005 di depan rumah.
Kebetulan di kawasan itu banyak mahasiswa kos. Keripik singkong dengan aneka rasa dijual dengan harga murah meriah. Gerobaknya diberi nama Tela Tela. Sambutannya ternyata meriah.Pokoknya membuat mereka optimistis melanjutkannya.
Tiga bulan kemudian mereka menambah dua outlet (gerobak). Modalnya diambil dari uang hasil penjualan televisi dan sebagainya hingga terkumpul Rp 1,5 juta. Setelah itu upaya mengembangkan pasar dilakukan. Termasuk ikut bazar yang berlangsung lima hari di acara yang diselenggarakan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. "Dalam sehari kami bisa menghabiskan 1 kuintal singkong di acara tersebut. Ini mengagetkan," ujar Eko. Berarti dalam lima hari mereka harus menggoreng 500 kg singkong hanya untuk memenuhi acara tersebut.
Dari kegiatan ini juga ada orang yang ingin menjadi mitra Tela Tela. Tawaran itu disambutnya dengan membuat gerobak dengan biaya Rp 2,5 jutaan. Bumbu "rahasianya" mereka pasok. Saat itu mereka belum membuat sistem kerjasamanya. Setelah itu tawaran kerjasama berlangsung dari mulut ke mulut. Tak terasa jumlah gerai Tela-Tela sudah mencapai 21 gerobak pada awal 2006.

2.2. Permasalahan yang Dihadapi
Setelah bisnis Tela-Tela mulai sukses maka ada tantangan yang harus mereka hadapi, karena akhirnya bisnis ini berkembang menjadi kemitraan. Banyak kesulitan yang harus ditemukan solusinya mengingat bisnis kemitraan sangat beresiko dan dapat saja suatu saat akan membuat citra yang buruk terhadap merk “Tela-Tela” karena dimitrakan dengan orang lain.
Tantangan utamanya adalah bagaimana agar kualitas dan rasa dari produk “Tela-Tela” ini tetap sama walaupun dibuat oleh orang yang berbeda. Kualitas dan rasa merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam bisnis makanan. Harus ada jaminan dari “Tela-Tela” untuk selalu memberikan yang terbaik kepada konsumen.
Kebutuhan akan bahan utama produk ini, yaitu singkong juga merupakan masalah yang serius. Bila “Tela-Tela” ingin berkembang ke seluruh derah di nusantara maka harus tersedia singkong sebagai bahan utama produk. Sementara tidak semua daerah memiliki kebun singkong, dengan kata lain di suatu daerah tidak tersedia bahan utama untuk bisa menjual “Tela-Tela”.
Hal ini akhirnya diakali dengan adanya pendistibusian bahan baku untuk penjualan “Tela-Tela”. Singkong dan juga bumbu untuk memasaknya langsung dipasok dari kantor pusat. Dengan demikian diharapkan rasa “Tela-Tela” akan tetap terjaga dan selalu sama di setiap outletnya.
Tantangan semakin besar karena akhirnya makin banyak orang yang berminat untuk ikut kemitraan berbisnis “Tela-Tela”. Walaupun hal ini dapat dilihat sebagai sebuah keuntungan tetapi juga merupakan masalah penting yang bila akhirnya bisa diselesaikan dengan baik akan memberikan kesuksesan.
Akhirnya manajemen “Tela-Tela” memberikan pelatihan khusus bagi para mitra kerjanya. Pelatihan mulai dari cara memproses produk hingga bagaimana caranya untuk mendapatkan pelanggan. Untuk masalah bahan baku sendiri akan dipasok langsung oleh “Tela-Tela” sehingga kualitas dan rasa bisa terus terjaga.
Kesungguhan manajemen “Tela-Tela” merupakan ujian paling berat untuk tetap konsisten menjalankan bisnis ini walaupum banyak tantangan yang harus dihadapi. Kualitas produk menjadi prioritas utama untuk selalu diperhatikan karena akan mempengaruhi citra “Tela-Tela” di masyarakat.

2.3. Upaya Kreativitas dan Inovasi yang Dilakukan dalam Pengembangan Usaha
Usaha yang diawali oleh empat sekawan ini akhirnya banyak menarik minat orang lain untuk menjadi mitra bisnis. Tela-Tela akhirnya menawarkan pola kerjasama berupa franchise (business opportunity) / waralaba. Dengan bahan baku dan resepnya tetap mereka yang membuat untuk menjaga rasa dan kualitasnya.
Tela-Tela juga menambah varian rasanya yaitu: BBQ, balado, keju, ayam, kebab, jagung manis, jagung pedas, jagung bakar, pepperoni, pizza, pedas manis, pedas asin, super pedas, lado mudo, rujak dan rasa campur. Sehingga pelanggan memiliki banyak pilihan rasa untuk menikmati singkong mereka.

Alasan mengapa Tela-Tela dapat berkembang sukses:
1. Tela Tela adalah perusahaan pelopor dan pemimpin pasar dalam industri snack ketela.
2. Menjadi snack favorit no. l di Yogyakarta tahun 2006.
3. Investasi yang terjangkau mengurangi besarnya kerugian disbanding usaha lain.
4. Break Event Point yang relative cepat, dengan lokasi yang tepat dalam 3-6 bulan sudah balik modal.
5. Konsep take Away menjadikan tela tela tidak membutuhkan tempat yang luas untuk berjualan, bahkan dapat dilakukan dengan konsep kaki lima.
6. Harga jual yang terjangkau bagi semua golongan masyarakat. Murah, Enak, Kenyang.
7. Tidak menggunakan system jual putus. Dalam hal pelayanan Agen selalu memantau perkembangan outlet dan terbuka untuk melakukan diskusi masalah.
8. Jaminan akan adanya inovasi produk menjadikan Tela Tela usaha jangka panjang.
9. Mampu dan berani bersaing dalam hal rasa, kualitas, maupun harga untuk produk yang sejenis.
10. Dukungan dari pusat atau agen untuk melakukan promosi bagi outlet baru.
11. Franchise / mitra kerja dapat melakukan konsultasi setiap saat dengan pihak
perusahaan atau agen tanpa dikenakan biaya.


3.Penutup
Kreasi dan inovasi sangat dibutuhkan dalam berwirausaha. Para pelaku wirausaha harus mampu cerdas dalam memanfaatkan peluang yang ada. Dengan kreatif dalam berwirausaha maka diharapkan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena dapat menarik minat konsumen. Terdapat keistimewaan dalam berwirausaha yaitu kita dituntut tidak hanya mencari keuntungan saja tetapi juga untuk mampu menampilkan sesuatu yang berbeda.
Dalam berwirausaha juga membutuhkan semangat yang tinggi untuk selalu pantang menyerah. Semua kegiatan memang diawali dari nol, mungkin pada awalnya kita akan mengalami sedikit kerugian karena tidak adanya pembeli. Tetapi lambat-laun hasil jerih payah kita dalam berwirausaha akan mulai dapat dirasakan hasilnya.
Berwirausaha memberikan kepuasan tersendiri dibandingkan kita bekerja sebagai pegawai. Dengan berwirausaha kita dapat mencurahkan ide kreatif kita secara maksimal sehingga dapat merasa bebas dalam melakukan inovasi dan kreasi. Berwirausaha juga mampu memberikan penghasilan yang lebih banyak dibandingkan dengan menjadi pegawai yang hanya bergantung kepada gaji bulanan saja.
Manfaat kegiatan wirausaha lainnya adalah penciptaan lapangan pekerjaan. Dengan banyaknya bisnis baru dalam berwirausaha maka kebutuhan akan tenaga kerja juga akan meningkat. Penyerapan tenaga kerja dari kegiatan wirausaha diharapkan dapat mengurangi tingkat pengangguran. Wirausaha menjadikan kita sebagai masyarakat yang mandiri karena mampu mendapatkan penghasilan tanpa harus menjadi pegawai.
Hal yang harus dimiliki oleh pelaku wirausaha antara lain kreatif dan inovatif untuk bisa menciptakan suatu produk yang baru. Semangat pantang menyerah untuk selalu menjalankan usahanya dengan keyakinan suatu saat usahanya akan sukses. Cerdas dalam mengelola permodalan dan juga manajemen tenaga kerja.
Kegitan berwirausaha diharapkan dapat mulai menginspirasi masyarakat untuk mulai mencoba menekuninya. Saat ini sangat sulit rasanya untuk mendapatkan pekerjaan maka berwirausaha merupakan salah satu solusi untuk mendapatkan pekerjaan. Diharapkan dari kegiatan wirusaha, akan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru sehingga membuka peluang bagi para tenaga kerja untuk mampu berkreasi dan berinovasi dengan ide-ide yang dimiliki.

 
Powered by Blogger